25 Agustus 2008

Apel Perdana


Senin (25/8) Dinas Pekerjaan Umum Pertambangan dan Energi Kabupaten Lombok Barat melakukan apel perdana. Apel dini dilakukan untuk pertama kalinya semenjak dinas baru ini terbentuk, apel dilakukan di kantor Jl. Langko No. 35 Mataram yang sebelumnya merupakan Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Kimpraswil Kabupaten Lombok Barat. Selaku Pembina apel adalah Kepala Dinas Ir. Robijono Prasetijanto dan dihadiri oleh pejabat eselon III dan IV serta staf di lingkungan dinas. Dalam pesannya kepala dinas mengajak kepada seluruh staf dan karyawan dinas untuk dapat bekerja sama sesuai dengan tugas pokoknya masing-masing bidang serta berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Dinas Pekerjaan Umum Pertambangan dan Energi merupakan dinas baru di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, dinas tersebut dibentuk berdasarkan Perda Kabupaten Lombok Barat No. 9 Tahun 2008 sebagai pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah.
Dinas Pekerjaan Umum Pertambangan dan Energi merupakan fusi dari dua dinas sebelumnya yaitu Dinas Pekerjaan Umum dan Kimpraswil dengan Dinas Pertambangan. Dalam struktur barunya dinas ini mempunyai 7 pejabat setingkat eselon III terdiri dari 1. Sekretariat; 2. Bidang Pengairan; 3. Bidang Bina Marga; 4. Bidang Cipta Karya; 5. Bidang Pertambangan Umum; 6. Bidang Geologi dan Sumberdaya; 7. Bidang Energi serta dilengkapi dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kebakaran, UPTD Pengujian dan UPTD Peralatan. (Admin)

22 Agustus 2008

Dapatkah Tras Menggantikan Pasir?



Bertambahnya populasi manusia menyebabkan bertambahnya permintaan akan kebutuhan hidupnya. Meningkatnya jumlah penduduk beserta tuntutan kebutuhan hidupnya membawa implikasi pada kegiatan pembangunan ekonomi yang semakin menekan keberadaan sumber daya alam baik yang dapat diperbaharui (renewable resources) maupun yang tidak dapat diperbaharui (Unrenewable resources).
Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk secara bersamaan makin meningkat pula jumlah kebutuhan akan perumahan sebagai tempat tinggal. Keadaan demikian mengakibatkan jumlah kebutuhan bahan galian tambang yang digunakan dalam pembuatan rumah tinggal mengalami peningkatan, sehingga perlu antisipasi dalam menyediakannya mengingat keberadaan bahan galian tambang sifatnya terbatas dan tidak dapat diperbaharui.
Selama ini pembangunan rumah tinggal maupun gedung-gedung perkantoran, tempat usaha, jalan, jembatan, irigasi, dan bagunan-bangunan lainnya menggunakan bahan galian pasir sebagai bahan baku utamanya. Berdasarkan data (Dinas PU Kimpraswil 2005), pada saat ini konsumsi bahan galian pasir di Kabupaten Lombok Barat mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Disisi lain keberadaan bahan galian pasir mempunyai keterbatasan, jika dahulu penambangan pasir hanya dilakukan pada daerah sungai saat ini penambangan sudah merambah daerah persawahan produktif, sehingga akan merusak tata air untuk keperluan pertanian. Secara geografis Kabupaten Lombok Barat mempunyai letak berbatasan langsung dengan Kota Mataram, dimana kebutuhan bahan galian untuk keperluan konstruksinya dipasok dari Kabupaten Lombok Barat.
Fenomena yang terjadi pada saat ini adalah kebutuhan akan bahan galian pasir untuk keperluan pembangunan semakin meningkat dibatasi oleh cadangan yang terbatas, hal ini mengharuskan adanya difersifikasi bahan galian tambang sebagai bagian dari usaha konservasi bahan galian yang didasarkan atas pemanfaatan optimal serta menghinari pemborosan bahan galian. Untuk itu perlu dicari altematif bahan pengganti pasir yang secara teknis dapat digunakan untuk keperluan pembuatan bangunan serta memiliki nilai ekonomis seperti trass.
Tras adalah bahan galian yang termasuk ke dalam golongan bahan galian C atau industri (PP No. 27/1980 tentang Penggolongan Bahan Galian). Bahan galian trass yang terdapat di alam umumnya berasal dari batuan piroklastik dengan komposisi andesitis yang telah mengalami pelapukan secara intensif sampai dengan derajat tertentu . Proses pelapukan berlangsung disebabkan oleh adanya air yang mengakibatkan terjadinya pelolosan (leaching) pada sebahagian besar komponen basa seperti : CaO, MgO, NaO dan K/jO yang dikandung oleh mineral-mineral batuan asal. Komponen CaO yang mengalami proses paling awal kemudian disusul dengan komponen berikutnya sesuai dengan mineral pembentuk batuan dalam reaksi seri Bowen. Dengan terjadinya proses pelolosan tersebut, maka akan tertinggal komponen-komponen SiO2, A1203 yang aktif yaitu yang akan menentukan mutu dari endapan trass yang terjadi pada masa berikutnya . Jumlah komponen-komponen aktif ini sebanding atau sesuai dengan derajat pelapukan dari batuan asal disamping faktor waktu turut berperan pada tingkat proses pelapukan yang terjadi secara terus menerus sepanjang waktu.
Trass mempunyai sifat pozzolan, yaitu sifat yang sama yang dimiliki oleh semen. Dari hasil penelitian (Dinas Pertambangan Kabupaten Lombok Barat 2003) menunjukkan bahwa tras dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, salah satunya adalah digunakan sebagai bahan pembuatan batako. Batako yang terbuat dari bahan dasar trass secara fisik dan mekanik mempunyai kemampuan yang tidak jauh berbeda dengan batako yang terbuat dari bahan dasar pasir. Bahkan pada pembuatan batako trass membutuhkan campuran semen yang lebih sedikit ( 1:20 sampai dengan 1:24) dari pada batako yang berbahan dasar pasir (1:5 sampai dengan 1:8).
[^Kecamatan Narmada terdapat potensi bahan galian trass dengan cadangan terduga (probable reserve} sebanyak 13.305.408 m3 (data Kanwil DPE Bali, NTB, NTT dan Timtim, 1995) yang sampai dengan saat ini belum dimanfaatkan. Potensi bahan galian trass ini perlu mendapatkan perhatian khusus, agar keberadaannya dapat bermanfaat bagi pembangunan daerah dan lebih khusus lagi untuk memberikan alternatif dalam pemanfaatan bahan galian untuk keperluan konstruksi, sehingga beban kebutuhan bahan galian pasir akan berkurang. Mengingat diatas lahan bahan galian trass terdapat vegetasi yang dimanfaatkan oleh masyarakat maka perlu dipertimbangkan keuntungan dan kerugiannya apabila bahan galian trass tersebut ditambang.Berangkat dari latar belakang tersebut sekiranya perlu dilakukan valuasi ekonomi terhadap potensi bahan galian trass yang ada untuk dimanfaatkan dengan mempertimbangkan kaidah-kaidah penambangan yang baik (good mining practice) dan memperhatikan lingkungan sebagai bagian yang sangat penting dan tak terpisahkan. Sehingga prinsip kegiatan penambangan yang berkelanjutan (sustainable mining activity) dapat dicapai, sesuai dengan prinsip konservasi sumber daya mineral yakni upaya pengelolaan bahan galian untuk mendapatkan manfaat yang optimal, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan bagi kepentingan rakyat secara luas. (Nurudin Diding Somantri)

21 Agustus 2008

Privatisasi Masalah Lingkungan Hidup



“Privatisasi masalah lingkungan hidup”, artinya masalah lingkungan hidup terjadi karena terkait dengan gaya hidup individual। Oleh karenanya, penanganan masalah lingkungan hidup harus dilakukan pada tingkat individu. Manusia mempunyai budaya yang berbeda-beda, terdapat perbedaan pula dalam memandang lingkungannya, perbedaan pandangan juga dipengaruhi oleh agamanya, tingkat ekonominya, asal daerahnya serta pendidikannya. Perbedaan pada hal-hal tersebut membuat tanggung jawab individual terhadap lingkungannya berbeda. Tanggung jawab individual ini seharusnya membawa kita mengubah perilaku dan gaya hidup sehari-hari walaupun hal ini sulit dilakukan karena manusia sudah terbiasa dan menikmati dengan berbagai kemudahan yang sebenaranya mengorbankan alam, sebagai contoh kita sudah terbiasa menggunakan kendaraan yang menghasilkan emisi gas buang padahal kita tahu bahwa emisi gas buang tersebut pada konsentrasi tertentu akan membahayakan bagi kehidupan manusia. Jika kita sadar akan lingkungan, maka kita akan melakukan penanaman pohon yang dapat menyerap gas buang dari kendaraan yang kita gunakan. Setiap orang menginginkan kehidupan yang nyaman bagi dirinya sendiri, maka etika lingkungan individual inilah yang seharusnya dikedepankan. Sifat egoisme dapat bersifat positif yang mendorong orang untuk berbuat peduli lingkungan karena perbuatan itu menguntungkan dirinya. Etika lingkungan global merupakan kepedulian bersama-sama dan berkembang untuk mengatasi degradasi lingkungan yang semakin serius.Perubahan hidup yang seharusnya dilakukan oleh manusia adalah dimulai dengan menumbuhkan kesadaran individual untuk hidup beretika, meningkatkan rasa memiliki dan cara bertindak yang bijak dalam hidup ada baiknya manusia melakukan seperti yang dikemukakan oleh Aa Gym, yaitu : mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal yang sederhana, dan dimulailah dari sekarang dalam mengatasi masalah lingkungan. Konsep lain yang perlu dilakukan juga adalah Atur Diri Sendiri yang dikemukakan oleh Otto Soemarwoto. Perubahan hidup seperti: rasa tanggung jawab, solidaritas kosmik, kasih sayang dan kepedulian terhadap alam, tidak merusak, hidup sederhana dan selaras dengan alam, keadilan, demokrasi, integritas moral. (Nurudin Diding Somantri)

Mengenal Pertambangan Lebih Dekat

Pertambangan, inilah salah satu kata yang saat ini ramai diperbincangkan di Lombok Barat। Hal ini muncul ketika usaha pertambangan bahan galian bijih mangaan mulai melakukan kegiatannya di bagian selatan Lombok Barat pada tahun 2005। Fenomena maraknya usaha pertambangan sebenarnya tidak hanya terjadi di Lombok Barat, di daerah-daerah lain di Propinsi NTB juga mengalami keadaan yang sama, seperti di Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu dan Bima, bahkan di Kalimantan, Sumatera dan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Banyaknya usaha pertambangan saat ini berkaitan erat dengan kebutuhan dunia akan bahan tambang bagi keperluan industri hilir yang sangat tinggi, sehingga menjadikan harga bahan tambang terutama untuk jenis logam yang relative tinggi. Untuk mengenal lebih dekat tentang pertambangan berukut ini akan diuraikan secara singkat mengenai penggolongan bahan galian, pertambangan dan karakteristiknya, tahapan kegiatan dalam ertambangan serta pandangan negative terhadap kegiatan pertambangan.
A. Penggolongan Bahan Galian
Sebelum mengupas lebih detil mengenai kegiatan apa saja dalam usaha pertambangan ada baiknya kita harus mengenal terlebih dahulu istilah bahan galian sebagai objek yang diusahakan dalam kegiatan pertambangan. Kita sering mendengar ada bahan galian golongan A, B dan C. Penggolongan bahan galian ini di dasarkan atas fungsi serta perannya dalam kehidupan manusia.
1. Bahan galian golongan A, adalah bahan galian yang mempunyai nilai strategis, yang termasuk bahan galian jenis ini adalah minyak, batubara, uranium yang dapat digunakan sebagai sumber energi.
2. Bahan galian golongan B, adalah bahan galian yang mempunyai nilai vital, jenis bahan galian ini sebagaian besar terdiri dari bahan galian logam seperti, emas, perak, tembaga, besi, mangaan, nikel, seng, timah, timah hitam, aluminium dll.
3। Bahan galian golongan C, adalah bahan galian yang tidak termasuk kedalam golongan A dan B, jenis bahan galian ini termasuk kedalam bahan galian industri, yaitu bahan galian yang digali dan dapat digunakan secara langsung tanpa atau sedikit melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Jenis bahan galian ini seperti pasir, batu bangunan, tanah urug, tanah liat, gamping (kapur), batu apung, tras, kaolin, gypsum, asbes dll.
B. Pertambangan dan karakteristiknya
Berbicara tentang pertambangan perlu kiranya kita mengetahui apa itu pertambangan. Pertambangan adalah serangkaian kegiatan yang meliputi pekerjaan pencarian, penyelidikan, penambangan, pengolahan, penjualan bahan galian hasil tambang yang memiliki nilai ekonomis. Bahan galian sebagai objek pertambangan memiliki sifat utama diantaranya tidak dapat diperbaharui, keterdapatannya tersebar di permukaan bumi secara tidak merata seperti di hutan, persawahan, di sungai, di bawah laut, di pegunungan sehingga sering menimbulkan masalah tumpang tindih pemanfaatan lahan. Dalam skala besar usaha pertambangan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Jangka waktu pengusahaan lama, kecuali untuk tambang bahan galian golongan C.
2. Padat modal, sebagai contoh PT. Newmont membutuhkan investasi sebesar USD 1,8 miliard.
3. Padat teknologi, membutuhkan teknlogi tinggi dalam melakukan operasinya.
4. Beresiko tingggi terhadap keselamatan kerja dan lingkungan
C. Tahapan kegiatan dalam pertambangan
Seperti dalam industri-industri lain, dalam kegiatannya industri pertambangan mempunyai tahapan yang sangat rumit. Setiap tahapan saling berhubungan erat dan harus dilakukan secara berurutan, terutama untuk industri pertambangan bahan galian golongan A dan B, tahapan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Penyelidikan umum
Adalah kegiatan penyelidikan, pencarian dan atau penemuan enapan mineral-minrela berharga. Pada tahapan ini kegiatan yang dilakukan hanya sebatas pada pemetaan permukaan, penyelidikan geofisika, geokimia, serta pengambilan sample singkapan batuan dalam jmlah yang kecil melalui paritan dan sumur uji dalam ukuran yang kecil untuk mengtahui keberadaan bahan galian. Kegiatan ini tidak membutuhkan pembukaan lahan yang luas dan tidak membutuhkan alat-alat berat.
2. Eksplorasi
Adalah pekerjaan lanjutan setelah penyelidikan umum yaitu setelah ditemukannya endapan bahan galian untuk mengetahui dan mendapatkan ukuran, bentuk, letak (posis), kadar dan jumlah cadangan bahan galian. Pada tahapan ini kegiatan yang dilakukan seperti pengeboran inti dengan kedalaman tertentu untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan bahan galian, pengambilan sample hasil pemboran diperlukan dalam jumlah kecil untuk mengetahui kandungan serta kadar mineral. Dalam kegiatan ini belum membutuhkan pembukaan lahan secara luas, bukaan lahan hanya dilakukan pada setiap pemboran sekitar 50 m2.
3. Studi kelayakan
Adalah studi yang dilakukan untuk menghitung untung atau ruginya apabila kegiatan pertambangan dilakukan. Kegiatan ini dilakukan setelah mendapatkan data cadangan dan kadar bahan galian. Beberapa aspek yang ditinjau dari studi kelayakan ini adalah, aspek ekonomi, teknologi dan lingkungan. Apabila menguntugkan dilihat dari ketiga aspek tersebut maka kegiatan pertambangan akan dilanjutkan pada perencanaan penambangan, tetapi apabila tidak menguntungkan, maka data eksplorasi akan disimpan sebagai arsip dan tidak dilanjutkan kegiatannya sampai pada suatu saat memungkinkan untuk dilanjutkan.
4. Perencanaan penambangan
Adalah kegiatan yang dilakukan untuk merencanakan secara teknis, ekonomi dan lingkungan kegiatan penambangan, agar dalam pelaksanaan kegiatannya dapat dilakukan dengan baik, aman terhadap lingkungan.
5. Persiapan / Konstruksi
Adalah kegiatan yang dilakukan untuk mempersiapkan fasilitas penambangan sebelum operasi penambangan dilakukan. Pekerjaan tersebut seperti pembuatan akses jalan tambang, pelabuhan, perkantoran, bengkel, mes karyawan, fasilitas komunikasi dan pembangkit listrik untuk keperluan kegiatan penambangan., serta fasilitas pengolahan bahan galian.
6. Penambangan
Adalah kegiatan penggalian terhadap bahan tambang yang kemudian untuk dilakukan pengolahan dan penjualan. Pada tahapan ini kegiatannya terdiri dari pembongkaran/penggalian, pemuatan kedalam alat angkut dan pengangkutan ke fasilitas pengolahan maupun langsung dipasarkan apabila tidak dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Kegiatan membutuhkan lahan yang luas dan menggunakan alat-alat mekanis untuk keperluan produksinya. Bukaan lahan bekas tambang nantinya dilakukan reklamasi untuk mengembalikan fungsi lahan sesuai dengan peruntukannya.
7. Pengolahan bahan galian
Pengolahan bahan galian dilakukan untuk memisahkan antara mineral berharga dan mineral tidak berharga sehingga didapatkan mineral berharga dalam kadar yang tinggi.
8. Pemasaran
Setelah didapatkan mineral berharga dalam kadar yang tinggi selanjutnya dapat di pasarkan sebagai bahan dasar untuk industri hilir, seperti industri logam, industri manufaktur dll.
D. Pandangan negative terhadap kegiatan pertambangan
Saat ini banyak pandangan negative yang ditujukan akibat kegiatan pertambangan, seperti kerusakan hutan, pencemaran limbah dll. Pandangan ini tidak semuanya benar banyak sisi positif yang dapat diambil dari adanya kegiatan pertambangan jika pengelolaannya dilakukan dengan benar dan menganut good mining practice yaitu cara penambangan yang menggunakan kaidah-kaidah teknik pertambangan yang baik dan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dan keberlanjutan. Terlepas dari pandangan negatif tentang pertambangan diatas pertambangan merupakan salah satu sektor yang dapat memberikan kontribusi pendapatan yang signifikan.Dalam prakteknya banyak perusahaan pertambangan yang telah melakukan kegiatan pertambangan dengan memperhatikan lingkungan dan kondisi masyarakat sekitar tambang. Perbaikan lingkungan dilakukan dengan mereklamasi lahan bekas penambangan sesuai peruntukan fungsi lahan, revegetasi dan melakukan pengembangan masyarakat (community development) untuk memberdayakan perekonomian dan meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar tambang . Banyak lokasi bekas penambangan yang selanjutnya dimanfaatkan untuk daerah wisata seperti di dalam negeri di Sumatera Barat bekas penambangan batuabara PT. Bukit Asam, di luar negeri Menara Petronas, Mine Resort City, Mine Wonderland di Malaysia, Balaraat di Australia dan masih banyak lagi.Bahkan beberapa perusahaan tambang sudah melakukan program Corporate Social Responsibility, sebagai kepedulian sosial perusahaan terhadap kesejahteraan masyarakat. Bagian terpenting untuk dilakukan saat ini adalah bagaimana merencanakan pengelolaan potensi sumber daya mineral yang dimiliki suatu daerah agar dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin bagi kesejahteraan masyarakat dengan melibatkan pemerintah, pengusaha dan masyarakat sehingga terjadi hubungan yang saling menguntungkan. (Nurudin Diding Somantri)